Minggu, 31 Oktober 2010

Berburu Gurita di SUMSEL

berburu gurita

kadang manusia itu seperti bebek. berwatak pengikut. sangat mudah digiring. jika ada satu bebek berjalan ke utara, semua ikut ke utara. jika bebek itu dibelokkan ke tenggara, semua ikut berbelok ke tenggara. bayangkan jika ada bebek yang berjalan sendirian. tidak ikut rombongan bebek. bisa dipastikan bebek itu akan dianggap tersesat. mungkin, sakit.
biasanya, aku menjadi orang yang sok berkarakter, entah apa maksudnya itu. aku akan bersantai-santai atau diam saja, meski semua orang lain sedang sibuk mengikuti ke arah mana rombongan menuju. aku menolak terlibat. aku sengaja menghindari jalur itu. terlalu ramai dan sesak. aku terlalu tidak peduli pada pandangan bebek-bebek. aku keras kepala seperti batu karang, teguh, cuek, bergeming. tetap bertahan pada tempatku dan membiarkan dunia berputar sebagaimana mestinya.
hal yang berbeda terjadi ketika si batu karang ini jatuh cinta.
tanpa ragu, si batu karang ini akan meloncat masuk, belingsatan ikut berdesakan di dalam rombongan bebek. dengan kata lain, secara naluriah berusaha melakukan apa saja untuk mencapai tujuan. lagi-lagi, tak peduli dengan hal-hal lain.
semua ini terbukti dengan kasus gurita cikeas yang sempat menggoyangkan fitrah si batu karang. si batu karang melonjak, ingin ikut memburu gurita. beginilah ceritanya:
membongkar gurita cikeas adalah buku teranyar george junus aditjondro, seorang dosen gerakan bla bla bla paska-kolonial di universitas sanata dharma, yogyakarta. aku merasa terlibat secara pribadi dan rahasia, hanya karena beberapa hari sebelum buku tersebut heboh, aku sempat dua kali bertemu dan ngobrol dengan penulisnya. maklum, kami sama-sama ada di yogyakarta, sebuah kota yang sebenarnya sangat sempit. kami bertemu di gramedia sudirman. dia brewokan dan berkumis tebal, dan selalu memakai kain tradisional yang disampirkan di bahunya. kadang ulos, songket, ataupun kain dari sulawesi selatan.
saat melihatnya, aku menyapanya. aku mengingatkannya pada masa kami mengikuti konferensi anti-otoritarianisme yang diselenggarakan oleh pusdep sanata dharma. dia orang yang baik, dan sangat berkesan bagiku. karena, pada waktu konferensi itu, aku seperti anak hilang. mahasiswa yang salah acara. semua peserta lain sudah lebih senior dan punya nama. sementara aku bukan siapa-siapa.
aku mengikuti semua acara sendirian. termasuk mengantri makan sendiri, duduk sendiri dan makan sendiri. sudah kuterima nasibku saat itu.
sampai, tiba-tiba, pak george junus duduk di sebelahku, dan mengajak mengobrol. ini terlalu indah untuk menjadi kenyataan! aku seorang mahasiswa sosiologi, dan dia adalah satu pengajar serta pembelajar sosiologi yang cukup eksis dan dikenal. terutama, karena karya-karyanya yang berkenaan dengan harta kekayaan dinasti soeharto. dan, waktu itu aku bukan siapa-siapa, terkucil, eh … diajak ngobrol oleh orang yang cukup dielu-elukan di dunia para aktivis dan intelektual. mendengar nama beliau saja, aku sudah keder, lah ini beliau menanyakan namaku!
sejak saat itu aku selalu mengenangnya, sebagai orang yang rendah hati dan tidak sombong. baik dan baik, dan ramah. dan baik. baik sekali.
saat bertemu di gramedia baru-baru ini tersebut, aku mengingatkannya pada peristiwa itu. tentu saja, ingatannya tidak se-mendalam punyaku. tapi, paling tidak dia ingat semua itu. dia ingat bahwa kejadian itu adalah 4 tahun yang lalu, tahun 2005. kami berbincang lagi. aku tentang cita-citaku. dia bicara sekilas tentang matakuliahnya, dan bahwadia sedang mencari buku tentang sby. gurita cikeas belum heboh, bahkan aku belum tahu bahwa dia bikin buku baru. dia memberi nomer teleponnya dan jadwal ketemu jika aku ingin berdiskusi. aku memperkukuh kesan yang sudah terpatri di benakku: dia orang baik. keesokan harinya kami bertemu lagi di gramedia, tidak sengaja. rambutnya awut-awutan. kuharap dia baik-baik saja.
kira-kira tiga hari kemudian, pak george muncul di tv, mengantarkan berita yang menggemparkan. dia menerbitkan buku yang membuat gerah sby. buku berjudul membongkar gurita cikeas tersebut mengundang kontroversi. komentar keluar dari berbagai mulut, terpancing tanpa dipancing. sepertinya banyak yang merasa gerah dan bereaksi macam-macam. meski, pada dasarnya buku yang dimaksud belum resmi diluncurkan.
entah angin mana yang berhembus, beredar rumor buku tersebut dilarang. tidak boleh terbit. toko-toko buku besar ditelpon secara langsung oleh pihak penguasa untuk tidak mengedarkan buku tersebut. jadilah buku tersebut berubah status, dari buku siluman menjadi buku langka dan most-wanted.
pada momen tersebut aku baru sadar. seperti de javu. seperti semua ini pernah terlintas, terjadi. entah nyata atau tidak, aku tiba-tiba merasa seperti pernah melihat sampul buku tersebut di gramedia tadi. baru aku sadar, kenapa naluri pemburuku tidak jalan sama sekali? kenapa sama sekali tidak bisa melihat bahwa itu buku penting dan berharga. “weruh sakdurunge winarah” bahwa buku itu akan dicari-cari serta menimbulkan kontroversi. pada saat itu aku hanya melihat sampulnya tanpa minat sama sekali. sepertinya. seingatku, aku berkomentar dalam hati, “wah pak george, kerjanya begini melulu. dulu cendana sekarang cikeas, dulu soeharto sekarang sby.” kupikir-pikir, aku sudah lama tak membaca buku selain buku cerita. apalagi buku tersebut tipis. urunglah aku membelinya.
eh, cerita berbelok saat kekasihku balik ke jogja dalam rangka liburan natal dan tahun baru. rupanya ia berminat dengan buku tersebut. buku yang tadinya sama sekali tidak menarik di mataku itu, berubah menjadi harta karun yang akan kucari sampai ke ujung dunia.
kami bersama-sama menuju ke toko buku hendak mencari buku tersebut.
saking putus asanya aku sampai mengirim sms ke pak george, mendukung sekaligus hendak membeli bukunya. sms yang bodoh dan mungkin menyinggungnya. seharusnya dia ku-sms berkenaan dengan research proposal yang hendak dia lihat. tapi itulah, ada kekuatan yang menggerakkan jariku secara otomatis, sms tidak bermutu. dia tidak membalas dan aku sedikit bete.
karena tidak ada di toko buku manapun, kalau benar-benar ingin mencari buku tersebut, lebih baik ke penerbitnya. penerbit tersebut punya percetakan sendiri. letaknya pun di satu lokasi. aku tahu tempatnya karena dulu pernah melamar ke sana dan diwawancara, berkenalan dengan pak julius felicianus, semacam dirut-nya yang juga baik hati.
sesampai kami di sana, buku tersebut tidak ada. kami harus inden dan mendaftar bersama dengan seribuan orang lain untuk mendapatkan buku tersebut. penerbit menunggu retur dari jakarta, sehingga kami tidak dapat kepastian kapan akan mendapat buku itu. kami memilih tidak mendaftar.
selesai dari penerbit, kami lari ke gramedia amplas. tidak ada juga. pada kesempatan lain kami berjalan kaki sambil bergandeng tangan, menyingkir dari cinema xxi yang ramai ke gedung wanitatama. ada pameran buku. di pameran ini ada stan penerbit tersebut, dengan gambar gurita besar, tapi bukunya sudah habis.
keesokan harinya, dia menolak ajakanku untuk pergi ke pameran itu lagi. sebenarnya aku pun sudah tidak memikirkan si gurita dalam kepalaku. aku hanya ingin melihat buku-buku berbahasa inggris bekas. aku berangkat sendiri, mengubek-ubek stan buku bekas. setelah itu, kaki ini masih saja menyeretku secara iseng-iseng ke arah stan penerbit buku gurita cikeas itu. stok masih kosong. paling tidak, cerita mencari buku ini saja sudah cukup menjadi kenangan yang menghibur ….
tak taunya, saat aku berjalan muter-muter tak karuan, mataku melihat buku gurita itu di stan penjualan sepatu dan gantungan kunci. hanya ada tiga eksemplar. mungkin juga yang lain disembunyikan. tanpa berpikir, aku langsung membeli dua eksemplar buku tersebut. soalnya, ayahku juga berminat. begitulah, di saat aku berhenti mencari, justru buku itu kutemukan. keberuntungan memang menyertaiku.
aku langsung pulang, menyerahkan masing-masing satu buku pada dua orang yang menginginkannya. aku sangat puas dan kuharap buku tersebut bermanfaat buat mereka. aku sampai wanti-wanti supaya buku itu disimpan dengan baik. kalian tidak akan bisa merasakan betapa puas dan senangnya aku.
dengan cepat mereka berdua telah menamatkan buku itu. sementara, aku tetap tidak tau apa-apa. aku hanya orang yang kebetulan beruntung …
… sampai kemudian keesokan harinya ayahku bilang bahwa buku gurita cikeas itu dijual di pinggir-pinggir jalan, di trotoar, di dekat lampu merah, oleh bapak-bapak tua yang biasa berjualan atlas atau mainan anak-anak. hilanglah kelangkaannya. konyollah keberuntunganku dan semua tanda-tanda alam itu. puff, dalam sekejap, sekali tiup, aku berubah dari kaum “segelintir-orang-istimewa-yang-beruntung-dan-diberkati”, menjadi orang biasa-biasa saja. tak ubahnya bebek-bebek yang tertipu. mungkin ketika sesuatu sudah dimiliki, sesuatu itu jadi tidak berharga lagi. ketahuan-lah watak asliku, aku hanya orang yang besar kepala dan gampang Ge-eR :P

Tidak ada komentar:

Posting Komentar